999

Jika estetika telah berkembang melampaui ruang, maka keberadaannya akan segera mengalir menuju bejana waktu.
Dan jika keduanya telah kehilangan kapasitasnya maka disitulah sebenarnya Kreatifitas Tanpa Batas berada.
  • ARSITEKTUR ANTI TREND

    Perkembangan dunia arsitektur tidak hanya pada "semata mata" bentuk, tapi menyangkut "jiwa" yang terkandung dalam bentuk itu sendiri. Sehingga menghasilkan design yang berkarakter kuat dan tidak mudah tergerus tren - WADeRO

  • BEDA ITU INDAH

    Design arsitektur yang "berbeda" ibaratkan sebutir berlian yang ada di hamparan pasir, kilaunya akan semakin cemerlang - WADeRO

  • BERTEMAN DENGAN ALAM

    Puncak tertinggi dalam tatanan estetika adalah alam semesta ini, kita diperbolehkan meminjamnya, asalkan kita jaga hingga utuh saat mengembalikannya - WADeRO

  • SENYAWA 5 UNSUR

    - Titik - Garis - Bidang - Tekstur - Warna - kelima unsur ini akan membentuk senyawa baru, materi baru ini harus terisi ruh estetika, dan selanjutnya baru layak disebut ARSITEKTUR - WADeRO

  • POSTMODERN

    Postmodern adalah "NEVER ENDING PROJECT". Penolakan terhadap pemikiran tesa MODERN tidak akan membuahkan anti tesa yang benar-benar original. Maka yang muncul hanyalah anti tesa transparan dan abu-abu - WADeRO

  • #

    #

RUMAH PADA LAHAN SEMPIT (lebar 5m)

by WADeRO - Widia K Achadi Design Room No comments

Sebagaimana lazimnya perkembangan kota, akan selalu berbanding sejajar dengan nilai tanah di sekitar keramaian kota. Semakin kota itu berkembang, akan semakin mahal pula nilai tanahnya. Nilai tanah yang sangat mahal ditengah kota mengakibatkan kecenderungan perkembangannya kearah vertical, demikian juga dengan rumah tinggal.
Kali ini saya akan berbagi pengalaman dalam memanfaatkan lahan yang sempit (lebar 5 meter), menjadi hunian yang ideal di tengah kota. Ideal dalam arti memaksimalkan lahan yang ada menjadi nyaman dan fungsional. Mengembangkan lahan yang sempit menjadi hunian, adalah sebuah tantangan tersendiri, mengingat luasan ruang yang sangat terbatas. Meskipun lebar lahan sangat terbatas (5 meter) namun harus tetap menerapkan kaidah-kaidah fungsi dan kenyamanan yang maksimal.


Untuk mencapai luasan yang memadai, bangunan dibuat 2 lantai dengan tatanan ruang sebagai berikut :

LANTAI 1
Hanya diperuntukkan pada zona ruang yang cenderung public (ruang tamu, ruang keluarga). Untuk kenyamanan dalam operasional rumah sehari hari, dapur ditempatkan di lantai 1. Penempatan kamar mandi kecil juga dibutuhkan di lantai ini agar kegiatan public lebih nyaman. Sehingga kebutuhan pencapaian kamar mandi tidak harus naik ke lantai 2. 

LANTAI 2
Lantai 2 didesign untuk memenuhi ruang yang cenderung masuk ke zona privat. Berisi ruang tidur utama, 2 ruang tidur anak dan kamar mandi. Pada ruang tidur utama, dengan lebar ruang 5 meter masih sangat memungkinkan untuk penempatan kamar mandi dalam yang dilengkapi dengan bathtub dan ruang ganti. 

Semoga bermanfaat.






LANTAI MEZZANINE

by WADeRO - Widia K Achadi Design Room No comments

Pengertian Mezzanine diambil dari bahasa Italia “mezzo” yang berarti bagian tengah. Sedangkan pengertian secara umum adalah ruang tambahan yang berada diantara lantai dan plafond. Pembuatan lantai mezzanine biasanya dilakukan untuk menambah kapasitas ruang tanpa harus menambah jumlah lantai secara permanen. Lantai mezzanine biasanya dimanfaatkan untuk gudang, ruang kerja pribadi, home theater atau fungsi-fungsi ruang sekunder yang lain.
Pembuatan lantai mezzanine bisa direncanakan sebelum bangunan jadi (melalui proses design), maupun bangunan yang sudah jadi (tahapan renovasi bangunan). Jika hal ini memang sudah direncanakan dari awal, tidak akan menjadi masalah, sebab problem-problemnya akan dapat diantisipasi lebih awal sebelum bangunan didirikan. Lain halnya jika pembuatan lantai Mezzanine dilakukan setelah bangunan jadi, karena harus mempertimbangkan banyak aspek, baik dari segi fungsi, besaran ruang, konstruksi maupun biaya.
Dari pengalaman yang sudah saya lakukan dalam pembuatan lantai mezzanine, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, Antara lain :

1. Fungsi Ruang

Ruang mezzanine bisa dikatakan sebagai ruang tambahan yang memanfaatkan ruang isolasi panas atap dengan menghilangkan konstruksi kuda kuda penopang atap. Sehingga plafon yang diterapkan akan mengikuti kemiringan atap. Konsekuensi dari bentuk ini adalah, bahwa ruangan yang terbentuk akan relative lebih panas jika dibandingkan dengan bentuk atap yang menggunakan kuda kuda. Maka perlu dipertimbangkan untuk membuat ventilasi (jendela) baru agar ruangan menjadi lebih segar. Pemanfaatan ruang juga harus mempertimbangkan hal ini, biasanya lantai mezzanine dibuat tanpa sekat (terbuka) untuk mengurangi peningkatan suhu ruang. Untuk iklim tropis seperti di Indonesia, lantai mezzanine lebih cocok dimanfaatkan untuk ruang-ruang sekunder, dan bukan ruang tidur. Misalnya : ruang santai, ruang baca, home theater dll.

2. Konstruksi

Jika pembuatan ruang mezzanine dilakukan dalam bangunan yang sudah jadi (proses renovasi), sebaiknya menggunakan konstruksi yang relative ringan. Hal yang paling krusial adalah pembuatan lantai baru, yang berada pada posisi plafond existing. Pemilihan bahan struktur lantai harus benar-benar mempertimbangkan kekuatan dinding dan kolom praktis existing. Mengingat biasanya lantai mezzanine akan diterapkan pada bangunan satu lantai, yang tentu saja bangunan tersebut tidak dipersiapkan untuk menahan beban dua lantai (baik pondasi maupun kolom penopangnya). Untuki itu saya sarankan untuk menerapkan rangkaian konstruksi dengan bahan-bahan yang tidak terlalu berat, contohnya : lantai multipleks dengan rangka kayu atau lantai GRC dengan rangka besi canal C.





INDAH TAK HARUS MAHAL (memanfaatkan sampah marmer & granit)

by WADeRO - Widia K Achadi Design Room No comments

Keindahan rumah tinggal banyak tergantung dari finishing yang kita terapkan sebagai bagian akhir yang terlihat pandangan. Jika kebetulan kita memiliki anggaran yg cukup untuk memilih bahan finishing, tentu tidak akan jadi masalah. Tersedia banyak sekali pilihan bahan finishing yang bagus (dan tentunya mahal) yang ditawarkan toko material. Lalu bagaimana seandainya anggaran yang kita sediakan terbatas ? Banyak kiat untuk mempercantik rumah kita tanpa harus mengeluarkan banyak biaya. Kali ini saya akan membahas pemanfaatan sisa sisa potongan marmer & granit yang biasanya hanya dibuang sebagai urugan tanah. Dengan sedikit ketekunan dan kecermatan memilih paduan warna, kita dapat menampilkan sampah-sampah tersebut menjadi sesuatu yang artistik. Untuk menampilkan bentuk yang alami sebaiknya buang potongan-potongan lurus menjadi bentuk pecahan batu. Bagian ujung-ujung yang runcing juga harus dihilangkan. Jika akan diterapkan pada bagian indoor (ruang tamu, ruang keluarga dll), sebaiknya memilih sisa-sisa bahan marmer (bukan granit). Karena batu marmer memungkinkan untuk di finishing ulang dan kembali mengkilat jika di slep menggunakan alat slep marmer. Dengan menggunakan alat tersebut, permukaan lantai bisa dibuat rata dan seolah olah menjadi satu bagian yang lebar tanpa sambungan.

Semoga bermanfaat.

https://wadero-architecture.blogspot.co.id/
https://www.instagram.com/widiakurniawan_architect/
https://web.facebook.com/widiaachadi/
https://www.youtube.com/channel/UCtbggj4TOl9IEpy90d3IjGA




  




ORNAMEN ISLAM

by WADeRO - Widia K Achadi Design Room No comments

Sejak Islam berkembang menjadi sebuah kekuatan yang sangat besar, maka perkembangan tersebut berpengaruh secara langsung terhadap berkembangnya kebudayaan Islam secara menyeluruh. Dalam acara-acara TV, khususnya di bulan Ramadan, sering ditayangkan dan diulas kebesaran Kekhalifahan baik dalam segi pemerintahan, teknologi maupun kebudayaan yang telah tercapai pada masa itu. Saya sangat tertarik dan berusaha mencermati produk kebudayaan (khususnya arsitektur) Islam yang terlahir pada masa kejayaannya. Beberapa rancangan Masjid yang saya buat, berusaha mengadopsi estetika Islam pada beberapa sudut bangunan, terutama pada bagian-bagian tertentu yang potensial menjadi eye catching. Belakangan baru tersadar betapa hebatnya ahli geometri yang mengerjakan ornament-ornamen tersebut pada saat itu. Dengan teknologi yang masih terbatas telah mampu menciptakan estetika rangkaian geometri yang rumit, indah dan terukur. Berikut ini saya sampaiakan beberapa gambar basic ornamen khas Islam.

Semoga bermanfaat. 


https://wadero-architecture.blogspot.co.id/
https://www.instagram.com/widiakurniawan_architect/
https://web.facebook.com/widiaachadi/
https://www.youtube.com/channel/UCtbggj4TOl9IEpy90d3IjGA



SLIDING ROOF ( atap geser )

by WADeRO - Widia K Achadi Design Room No comments

-->Bagi penggemar sepakbola, atau Jamaah Haji yang peduli terhadap detal arsitektur, kata "atap geser" tentu tidak akan asing di telinganya. Banyak stadion skala raksasa di Eropa yang menerapkan sistem ini untuk konsumsi kenyamanan penonton. Demikian juga dengan Masjid Nabawi di Madinah yang menggunakan “kubah geser” untuk memaksimalkan cahaya dan udara yang masuk ke ruang dalam.

Dalam prakteknya, atap geser tidak hanya dapat diterapkan dalam dimensi yang serba raksasa (stadion, tempat ibadah dll), namun dapat juga diaplikasikan dalam skala yang lebih kecil seperti : ruang pertemuan, pabrik, lapangan footsal bahkan rumah tinggal. Dapat anda bayangkan jika ruang makan kita dirumah dapat sewaktu-waktu dibuka dan ditutup untuk dapat menyatu dengan taman, tentu akan dapat menciptakan suasana dan sensasi yang sangat menakjubkan.
Agar dapat mendapatkan bentuk yang maksimal, sebaiknya penerapan atap geser ini sudah direncanakan dari awal sejak proses perencanaan, sehingga persembunyian atap pada saat digeser sudah dipersiapkan sehingga tidak menggnggu estetika bangunan secara keseluruhan, baik eksterior maupun interiornya. Secara structural atap ini adalah atap konvensional yang dilengkapi motor penggerak, kontrol penggeseran atap dapat dilakukan hanya dengan menekan tombol dari bawah.
Pembagian umum system electrical didalamnya dapat dibagi menjadi 2 bagian utama, yaitu elektro motor (sebagai pembangkit energy gerak) dan unit koneksi roda (sebagai penyalur energy putaran motor ke roda dan rel). Kekuatan elektro motor penggeraknya disesuaikan dengan beban atap yang akan digeser. Sehingga pemilihan bahan dan dimensi bentang atap akan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan jenis dan kekuatan motor serta system roda yang diterapkannya. Elektro motor yang diterapkan harus sudah memiliki system speed reducer yang terintegrasi didalamnya, sehingga spesifikasinya sudah dapat diperhitungkan dalam memilih kecepatan gerak atap. System penyalur gerak motor ke roda dan sprocket dapat menerapkan koneksi rantai maupun koneksi pinion dan rack gear yang menyatu dengan atap. Keduanya memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Jika menerapkan system rantai, biaya aplikasinya akan menjadi lebih murah, tapi konsekuensinya, motor akan ikut bergerak sesuai dengan gerakan atap. Karena motor ikut bergerak, maka harus dipersiapkan pula system ducting kabel yang memadai agar tidak mengganggu gerakan atap.
Dari sekilas gambaran diatas, apakah anda tertarik untuk mengaplikasikan pada bangunan anda ?

Video atap geser dapat anda lihat di http://www.youtube.com/watch?v=vKOtffN3zAg


 
https://wadero-architecture.blogspot.co.id/
https://www.instagram.com/widiakurniawan_architect/
https://web.facebook.com/widiaachadi/
https://www.youtube.com/channel/UCtbggj4TOl9IEpy90d3IjGA

Finishing Ekspose Batu-bata

by WADeRO - Widia K Achadi Design Room 9 comments




Beberapa waktu yang lalu, saya dihubungi klien lama yang mau merenovasi tempat tinggalnya. Pada tatap muka pertama, Beliau (seorang Dokter senior di RS Swasta) berkeinginan mengubah tampilan kosmetik bangunan (tata warna dan bahan finising) dengan tujuan agar memperoleh nuansa baru bagi tempat tinggalnya. Beliau berpesan untuk memasukkan unsur batu-bata ekspose seperti yang sering digunakan pada bentuk arsitektur tradisional.
Permasalahannya adalah, rumah tinggal pak Dokter tadi dari awal tidak dipersiapkan untuk tampilan ekspose batu-bata. Dindingnya sebagian besar menggunakan plesteran dan acian yang difinishing dengan cat dinding.




Finishing ekspose batu-bata bukanlah barang baru bagi pekerjaan finishing arsitektur, bahkan nenek moyang kita sudah sering menggunakannya. Namun ternyata hingga sekarang masih memiliki penggemar tersendiri yang tak uzur ditelan zaman. Menampilkan batu-bata sebagai elemen visual memang menarik, mampu menimbulkan nuansa alami / natural, tegas dan sejuk. Seakan menjadi katalisator keteduhan ruang tinggal bagi penghuninya.
Berkaitan dengan kasus rumah pak Dokter, ada baiknya jika saya sedikit mengupas tentang beberapa metode finishing ekspose batu-bata.


1. Ekspose batu-bata Bali

Metode ini sering kita jumpai pada bangunan-bangunan peribadatan di Bali, di Jawa Tengah dapat ditemui pada arsitektur Masjid Menara Kudus. Metode ini betul-betul mengandalkan kepresisian bilah-bilah batu bata, baik ukuran, sudut maupun cara pemasangannya. Batu-bata disusun hampir berhimpitan tanpa memperlihatkan siar. Hingga yang terlihat adalah susunan batu-bata yang bertumpuk membentuk dinding. Siar adalah ruang yang terbentuk akibat adanya spesi adukan perekat antar batu-bata. Pemilihan metode ini menimbulkan konsekwensi dalam pemilihan kualitas batu-bata. Batu-bata yang dipasang dipilih yang memiliki bentuk rapi, presisi ukuran dan sudut, bertekstur halus dan tidak banyak pori-pori. Batu-bata yang kurang baik dapat menimbulkan kesan pandang yang cacat dalam pembentukan garis siar. Karena pandangan tidak dapat lagi dicuri dari pembentukan spesi. Material perekat juga harus dipilih yang memiliki kualitas tinggi dan tidak membutuhkan volume yang besar untuk mencapai daya rekat yang maksimal.


2. Ekspose batu-bata konvensional

Adalah ekspose batu-bata yang telah dipersiapkan sejak awal pembuatan dinding, pada bagian yang direncanakan, dinding batu-bata tidak diplester dan diaci.
Metode ini jauh lebih sederhana dalam penerapannya. Hanya saja pemilihan batu-bata yang dipakai juga harus memiliki tingkat kualitas yang baik dalam bentuk dan ukurannya. Batu-bata yang terpasang harus utuh, yang pecah dan gumpil sudutnya tidak dapat dipakai. Pemasangannya tidak jauh berbeda dengan pemasangan batu-bata pada umumnya, namun benar-benar harus memperhatikan jarak siar vertikal maupun horisontalnya. Juga harus diperhatikan material spesi agar terhindar dari butiran-butiran yang besar, untuk itu dibutuhkan ayakan dengan diameter yang lebih halus. Pada pemasangan di area luar (out door) dibutuhkan coating agar batu-bata tidak mudah terkena lumut dan jamur.


3. Ekspose batu-bata tempelan

Yang sering kita lihat adalah penempelan material teracota hasil fabrikasi, ukuran yang tersedia di pasaran cukup bervariasi, tersedia ukuran yang mendekati ukuran asli batu-bata maupun yang lebih besar. Metode penempelannya sangat praktis seperti halnya memasang keramik dinding pada umumnya, hanya dibutuhkan nat yang lebih besar agar dapat memperlihatkan bentuk yang menyerupai spesi. Tidak dibutuhkan keahlian khusus dalam penggunaan material ini, karena pembuatan materialnya dilakukan dengan fabrikasi yang menghasilkan presisi tinggi. Karana kerapiannya, material ini kurang dapat menghasilkan kesan yang alami dan terlihat lebih kaku. Tidak dianjurkan memasang tanpa menggunakan siar (seperti pada batu-bata Bali) karena akan berakibat hilangnya kesan batu-bata yang tersusun.


4. Ekspose batu-bata tempelan

Untuk menghindari kesan kaku pada pemasangan teracota hasil fabrikasi, kita dapat membuat sendiri / memesan dengan jalan mencetak menggunakan material semen pasir maupun tanah liat yang dibakar. Penggunaan material tanah liat yang dibakar (tembikar) dapat dipesan pada pengrajin-pengrajin tembikar yang banyak terdapat di daerah Kasongan Jogjakarta, Klampok, Mayong dll. Para pengrajin biasanya tidak menggunakan teknologi dan alat canggih dalam memproduksi tembikar, hingga tingkat presisinya tidak dapat terlalu tinggi. Namun inilah yang membuat teracota industri kecil dapat lebih tampil alami / natural. Jika volume yang dibutuhkan tidak terlampau banyak, rasanya sangat tidak efektif jika kita harus memesan pada pengrajin yang lokasinya jauh dari tempat tinggal kita. Saya sarankan untuk mencetaknya sendiri dengan bahan semen dan pasir. Cara kerjanya sederhana, dibutuhkan matras cetak dari bahan kayu sengon, kayu jangan diserut agar hasil cetakan nantinya dapat memperlihatkan permukaan yang kasar. Buatlah ukuran sesuai yang kita kehendaki, dengan ketebalan 1.5 cm. Siapkan adukan semen pasir (yang sudah diayak halus) dan tambahkan lem beton secukupnya agar menghasilkan cetakan yang tidak mudah patah. Sebelum adukan dituangkan, olesi matras cetak dengan margarine / minyak goreng. Tunggu hingga kering untuk membuka hasil cetakan. Pemasangan hasil cetakan seperti halnya kita memasang keramik dinding. Pewarnaan dapat dilakukan dengan cat dinding yang berkualitas baik. Untuk mendapatkan finishing yang lebih natural gunakanlah bubuk teracota (bisa juga dengan pecahan genting atau batu-bata yang sudah ditumbuk dan diayak halus) dicampur dengan lem beton. Campuran tadi dapat langsung dioleskan menggunakan kuas. Metode finising ini memang agak ribet, namun akan menghasilkan tekstur dan warna batu-bata yang sangat alami sesuai dengan aslinya.


5. Ekspose batu-bata plesteran

Ekspose batu-bata dengan menggunakan plesteran bisa diterapkan baik pada dinding baru, maupun dinding lama yang tidak dipersiapkan untuk tampilan ekspose batu-bata. Metode ini yang saya gunakan untuk mengerjakan rumah pak Dokter karena sangat praktis dan relative lebih cepat pembuatannya. Namun sangat mengandalkan kerapihan dan ketelitian yang tinggi. Cara kerjanya adalah sebagai berikut. Dinding batu-bata yang sudah diplester (belum diaci) diplester sekali lagi dengan ketebalan 1,5 cm. Plesteran ini (yang terakhir) dipersiapkan sebagai volume pembentuk batu-bata tiruan. Untuk itu dibutuhkan pasir dengan ayakan yang halus dan penambahan lem beton secukupnya. Pada saat masih basah, potonglah plesteran menggunakan alat bantu cutter dan penggaris, membentuk lajur-lajur siar. Pemotongan lajur siar biasanya berjarak antara 1 s/d 2 cm. Biarkan beberapa saat hingga kondisi plesteran setengah kering (malem). Pada saat setengah kering, lajur goresan cutter yang membentuk siar diambil (dicongkel hingga bersih) menggunakan obeng atau scrab. Yang harus sangat diperhatikan adalah proses pemotongan plesteran. Dibutuhkan persiapan untuk menjaga jarak yang teratur baik vertical maupun horisontalnya. Finishing yang diterapkan dapat mengacu pada pemasangan ekspose batu-bata tempelan.


https://wadero-architecture.blogspot.co.id/
https://www.instagram.com/widiakurniawan_architect/
https://web.facebook.com/widiaachadi/
https://www.youtube.com/channel/UCtbggj4TOl9IEpy90d3IjGA

ARCHITECTURE WORLD

by WADeRO - Widia K Achadi Design Room No comments

Silakan kontak saya jika anda mau wujudkan imajinasi anda. Kami siap membantu mewujudkan impian anda menjadi masterpiece. WADeRO membikin beres pekerjaan arsitektur, interior dan lingkup yang menyertainya. Thanks


https://wadero-architecture.blogspot.co.id/
https://www.instagram.com/widiakurniawan_architect/
https://web.facebook.com/widiaachadi/
https://www.youtube.com/channel/UCtbggj4TOl9IEpy90d3IjGA